Tuesday, July 3, 2018

Laporan Produksi Ternak Potong dan Kerja


LAPORAN PRAKTIKUM
MK. PRODUKSI TERNAK POTONG dan KERJA




Oleh:
Hendro Sulistiyo
NPM: E1C013094


Jurusan Peternakan-Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu
Oktober 2014

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penyusun panjatkan kehadrat Allah S.W.T yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah Nya, karena penyusun dapat menyelesaiakan penyusunan laporan ini sesuai dengan jangka waktu yang telah diberikan oleh pihak kampus. Dari hasil yang telah dilakukan dan dicapai selama penyusun mengikuti proses praktikum di kandang UNIVERSITAS BENGKULU selama 10 hari dari tanggal 15 September sampai dengan 24 September 2014, penyusun banyak mendapatkan pengetahuan yang lain di dalam dunia peternakan dan yang terutama sekali penyusun juga banyak mendapatkan pengalaman berharga yang tak ternilai. Dan dengan bersumber dari hal-hal tersebut, akhirnya menjadi dasar dan bahan bagi penyusunan laporan ini.
Sebelum melanjutkan penyusunan, terlebih dahulu penyusun mengucapkan terima kasih kepada:
1.      Allah S.W.T yang telah memberikan kesehatan jasmani dan rohani
2.      Kedua orang tua penyusun yang telah memberi dorongan dan semangat.
3.      Bpk. Dwatmadji, Dr. Ir., M.Sc selaku dosen pembimbing.
4.      Asisten dosen yang telah memberikan bimbingan saat praktikum maupun pembuatan laporan.
5.      Seluruh teman-teman mahasiswa peternakan.
6.      Semua pihak yang tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu yang senantiasa selalu membantu baik moral maupun materi, sehingga penyusun dapat melanjutkan penyusunan laporan ini hingga selesai pada akhirnya.

Penyusun mengakui bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, dengan dasar itu penulis mohon kritik dan saran yang sifatnya membangun.
            Semoga laporan ini berguna, khususnya untuk penyusun dan pembaca pada umumnya.
                                                                                                Bengkulu, Oktober 2014
Penyusun

Hendro Sulistiyo

DAFTAR ISI





A.    MATERI DAN METODE

B.1. Jadwal Pelaksanaan dan Daftar Anggota Kelompok

B.1.1   Daftar nama kelompok sapi 4

No
Nama
NPM
1
Hendro Sulistiyo
E1C013094
2
Yuhan Kusnadi
E1C013124
3
Veronika Nababan
E1C013085
4
Melisna Febriani
E1C013107
5
Rifky Adwiansyah
E1C013024
6
Sargie Santi Banes
E1C013052
7
Ramadhan Sumanto
E1C013125
8
Muhyidin
E1C013009
Jadwal kegiatan praktikum dilakukan mulai hari senin tanggal 15 September 2014 sampai hari jum’at tanggal 19 september 2014.

B.1.2   Daftar nama kelompok domba 3

No
Nama
NPM
1
Hendro Sulistiyo
E1C013094
2
Septian Arianto
E1C0130
3
Nurma Apriyanti
E1C013054
Jadwal kegiatan praktikum dilakukan mulai hari sabtu tanggal 20 september 2014 sampai hari rabu tanggal 24 september 2014.

B.2. Materi

Sapi bali merupakan sapi potong asli Indonesia yang merupakan hasil dari domestikasi dari banteng (Bibos banteng) adalah jenis sapi yang unik, hingga saat ini masih hidup liar di Taman Nasional Bali Barat. Ciri-ciri sapi bali antara lain:
·         Warna bulu pada badanya akan berubah sesuai usia dan jenis kelaminya, sehingga termasuk hewan dimoprhsm-sex. Pada saat masih “pedet”, bulu badannya berwarna sawo matang sampai kemerahan, setelah dewasa sapi bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi bali betina. Warna bulu sapi bali jantan biasanya berubah dari merah bata menjadi coklat tua atau hitam setelah sapi itu dikebiri, yang disebabkan pengaruh hormone testosterone.
·         Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnyadan pad paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Warna bulu putih juga dijumpai pada bibir atas/bawah, ujung ekor dan tepi daun telinga. Kadang-kadang bulu putih terdapat di antara bulu yang coklat yang merupakan kekecualian atau penyimpangan ditemukan sekitar kurang dari 1%. Bulu sapi bali dapat dikatakan bagus (halus) pendek-pendek dan mengkilap. (Anonim, 2013)
·         Ukuran badan berukuran sedang dan bentuk dalam memanjang.
·         Kepala agak pendek dengan dahi datar.
·         Badan padat dengan dada yang dalam.
·         Tidak berpunuk dan seolah tidak bergelambir.
·         Kakinya ramping, agak pendek menyerupai kaki kerbau.
·         Pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.
·         Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam.
·         Tanduk pada sapi jantan tumbuh agak ke bagian luar kepala, sebaliknya untuk jenis sapi betina tumbuh dibagian dalam.
Domba (ovis) yaitu ternak ruminansia dengan rambut tebal dan dikenal banyak orang karena dipelihara untuk dimanfaatkan rambut (wol), daging, dan susunya. Yang palling dikenal orang adalah domba peliharaan (ovis aries), yang diduga keturunan dari moufflon liar dari Asia Tenggara selatan dan barat-daya. Untuk tipe lain dari domba dan kerabat dekatnya, lihat kambing antilop. Domba berbeda dengan kambing.
Klasifikasi
Phylum                  : Chordata
Sub Phylum           : Vetebrata
Class                      : Mamalia
Ordo                      : Ungulata
Sub Ordo              : Artiodactylata
Familia                  : Coroviane
Genus                    : Ovis
Species                  : Ovis orientalisi (Siregar, 2007)
Domba ekor tipis merupakan domba yang banyak terdapat di jawa barat dan jawa tengah.Domba ini termasuk golongan domba kecil, dengan berat potong 20-30 kg.warna bulu putih dan biasanya memiliki bercak hitam di sekeliling matanya. Ekornya tidak menunjukan adanya desposisi lemak.Domba jantan memiliki tanduk melingkar, sedangkan yang betina biasanya tidak bertanduk.Bulunya berupa wol yang kasar.
Pakan yang diberikan untuk ternak adalah pakan yang umum digunakan yaitu rumput dan kosentrat, rumput yang diberikan 10% dari berat badan, missal berat sapi 200 kg makan rumput yang diberikan minimal 20 kg dan 1% kosentrat dari berat badan. Kosentrat yang diberikan campuran dedak dengan kosentrat ayam broiler.
Kandang yaitu tempat dimana ternak akan tinggal dan berlindung dari segala ancaman yang berasal dari luar, serta tempat untuk memudahkan peternak untuk mengurus ternaknya. Kandang dibuat harus sesuai dengan lingkungan sekitar dan ekonomis sehingga akan membuat ternak menjadi nyaman. Kandang domba biasanya dibuat dalam tipe A dengan konstruksi atap terbuat dari seng bentuk kandang panggung dengan lantai dan dinding terbuat dari papan kayu dan diberi sekat pemisah antar domba satu dengan yang lain. Untuk kandang sapi tipe A dimana dalam satu kandang diberi sekat pemisah antara sapi yang satu dengan yang lain, hal ini bertujuan supaya saat makan dapat diberikan secara merata atau tidak saling berebut.
Peralatan yang digunakan antara lain waktu penghitung (jam atau handphone) thermometer, timbangan, pita ukur, sabit ember dan alat untuk kebersihan kandang antara lain sapu dan cangkul.
·         Waktu penghitung berfungsi sebagai alat penghitung waktu saat mengukur fisiologis ternak.
·         Handphone kamera berfungsi untuk memfoto gigi ternak
·         Thermometer berfungsi untuk mengukur suhu rectal ternak
·         Timbangan berfungsi untuk menimbang rumput, kosentrat dan air minum yang akan diberikan ataupun sisa dari itu.
·         Pita ukur berfungsi untuk mengukur tinggi ternak, lingkar badan ternak serta panjang ternak.
·         Sabit berfungsi untuk memoton kecil-kecil rumput yang terlalu panjang supaya memudahkan ternak untuk memakannya.
·         Ember berfungsi untuk tempat air minum atau kosentrat yang akan diberikan kepada ternak.
·         Dan alat kebersihan berfungsi untuk membersihkan kandang yang terlalu kotor.

            B.3. Metode

B.3.1   Cara pengukuran Produksi ternak

a.         Pengukuran berat badan ternak :
·           Pada praktikum hari pertama sapi dan domba ditimbang berat badanya, data ini sebagai data berat awal ternak.
·           Untuk ternak domba penimbangan berat badan dilakukan setiap hari, sedangkan untuk ternak sapi penibangan berat badan dilakukan pada awal dan akhir praktikum.
·           Pertambahan berat badan ternak dapat diketahui dengan caraberat penimbangan akhir dikurangi berat penimbangan awal.
b.        Pengukuran panjang badan ternak:
·           Siapkan pita ukur dan kendalikan ternak dengan baik sampai ternak menjadi tenang.
·           Ukur panjang badan ternak mulai dari tulang pinggul sampai scapula

c.         Pengukuran tinggi badan ternak :
·           Ternak harus dalam posisi yang bagus dan berdiri di tempat yang datar.
·           Pengukuran tinggi badan dapat dilakukan dengan meletakkan tongkat ukur, dari tanah sampai titik tertinggi pada pundak.
·           Pengukuran tinggi badan ternak dilakukan setiap hari setiap pagi saat praktikum.
d.        Pengukuran lingkar dada :
·           Siapkan pita ukur dan kendalikan ternak dengan baik sampai ternak menjadi tenang.
·           Ukur lingkar dada mulai dari perut bagian depan sampai bagian atas gumba.

e.         Kosumsi pakan
·           Pakan yang diberikan adalah berupa hijauan segar dan konsentrat, sebelum pakan diberikan, pakan yang berupa hijauan segar dan konsentrat serta air minum ditimbang terlebih dahulu.
·           Pemberian pakan dan air pada pagi hari, serta dapat ditambahkan siang dan sore jika pakan dan air minum kurang. Untuk pemberian pakan hijauan sebanyak 10% dari berat badan ternak, pakan kosentrat sebanyak 1% dari berat badan serta air diberikan terus menerus tanpa batas.
·           Pada pagi keesokan harinya sisa pakan hijauan serta kosentrat dan air ditimbang untuk mengetahui berapa banya kosumsinya.
·           Kosumsi pakan ternak jumlah seluruh pemberian pakan dan air minum dikurangi sisanya.

B.3.2   Fisiologis dan Lingkungan

a.       Suhu rektal :
·         Siapkan thermometer dan kalibrasikan thermometer tersebut sebelum digunakan.
·         Ternak dikendalikan dengan baik sampai ternak menjadi jinak
·         Masukkan thermometer rectal kedalam rectum ternak sampai suhu thermometer konstan dan catat suhu pada thermometer.

b.       Respirasi:
·         Siapkan stopwatch atau handphone (penghitung waktu)
·         Untuk mengukur respirasi dapat dilakukan dengan cara melihat gerak pernapasan pada perut atau merasakan hembusan nafas dengan telapak tangan selama setengah menit.
·         Pengukuran dilakukan pada pagi, siang dan sore hari saat praktikum.
c.       Denyut jantung :
·         Siapkan stopwatch atau handphone (penghitung waktu)
·         Untuk mengukur denyut jantung pada ternak biasanya letaknya pada ekor bagian pangkal dalam atau kaki bagian atas dalam.
·         Hitung denyut jantung selama 30 detik
d.      Kondisi lingkungan
·         Temometer diletakkan didalam kandang
·         Setelah beberapa menit lihat suhu dan kelembapan kandang.
e.       Estimasi umur ternak
·         Umur ternak dapat diprediksi dengan menggunakan rumus gigi.
·         Foto gigi ternak dan gunakan rumus gigi menurut referensi yang ada.
f.       BCS
·         BCS pada ternak dapat ditentukan hanya menggunakan visual saja, BCS ada 1 sampai 9.
·         Lihat pada referensi yang ada untuk menentukan BCS pada ternak.

B.     HASIL DAN PEMBAHASAN

C.1. Kosumsi  pakan

Kosumsi pakan ternak sapi

Sapi bali merupakan sapi potong asli Indonesia. Sapi maupun ternak ruminansia lainnya mempunyai keterbatasan dalam mengkonsumsi ransum.Hijauan maupun rumput-rumputan yang tumbbuh di daerah tropis seperti Indonesia relative cepat tumbuh, tetapi kandunga gizinya relative rendah.Oleh karena itulah, sapi-sapi yang digemukkan dengan hanya memberikan hijauan saja tanpa adanya penambahan pakan ini berupa konsentrat tidak mungkin mencapai pertambahan bobot badayang tinggi (Anonim, 2011). Untuk penggemukan sapi dalam waktu yang relative singakat maka ransom yang diberikan haruslah terdiri dari hijauan dan konsentrat. Penggemukan sapi dalam waktu yang relative singakt berarti pertambahan bobot badan yang akan disapai harus tinggi (Sugeng, 2005).
Pada umumnya ternak sapi lebih menyukai rumput hijauan ini dikarenakan sapi adalah hewan herbivore (pemakan rumput).Rumput memiliki berbagai jenis dan spesies.Pada umumnya rumput yang sering dikondumsi oleh ternak sapi ialah rumput gajah, rumput benggala dan lain-lainnya (Anonim, 2007). Pada proses penggemukan sapi bali kita menfokuskan pada pemberian rumput gajah, ini lebih efisien karena tersedianya lahan rumput gajah yang telah tersedia. Disamping jenis pakan rumput kita memberikan campuran konsentrat dengan komposisi dedak halus 60-80 %, dan dapat dilakukan sebagai gantinya yaitu ampas pabrik tahu, mineral 1-2 %, garam (NaCl) 1-2 %, molasses 2-3 % dan air secukupnya. Pembuatan pakan ini sangatlah mudah yaitu dengan mencampurakan bahan pakan yang tersedia dengan baik dan merata kemudian mencampurnya dengan air hingga terbentuk adonan.Perlu diketahui bahwa penggemukan yang dilakukan pada praktikum ini dengan jumlah ternak yang digemukkan sebanyak dua ekor dengan jenis kelamin jantan. Pemberian pakan berupa rumput hijauan diberikan pada pagi harinya namun pengambilan (cut and carry system) dilakukan pada sore harinya dalam artian rumput dibermalamkan ini bertujuan agar kandungan air pada rumput hijaun dapat berkurang dengan demikian akan memberikan tingkat palatabilitas pakan lebih baik dan ini disukai oleh ternak. Manajemen ini dilakukan berdasarkan pada pengaruh pemberian pakan basah pada ternak yang dapat memberi dampak negative misalnya terserang penyakit parasit nematode, trematoda dan cestoda.Ada bebrapa persiapan ransom penggemukan yang perlu dipertimbangka dalam melakukan penggemukansapi bali yang terdiri dari pakan konsentrat, pakan hijauan dan suplemen atau mineral. (Anonim, 2009)

1.             Pakan Konsentrat

Pakan konsentrat untuk sapi di lahan sawah irigasi dapat berupa dedak, jagung, dedak padi, onggok, gaplek, ampas tahu, bungkil kelapa atau bungkil kedele, disesuaikan dengan kondisi dan ketersediaan di derah setempat.Jumlah konsentrat yang diberikan sangat tergantung pada bahan yang diberikan, derajat kekeringan, bobot badan sapi dan target kenaikan bobot badan per hari per ekor yang diinginkan. Waktu pemberian  pakan konsentrat sebaiknya pagi hari antara pukul 8 – 9 pagi sebelum pemberian hijauan dalam jumlah banyak dan jangan kaget kalau sementara waktu sapi menjadi mencret. Jumlah pemberian pakan kosentrat untuk ternak ruminansia adalah 1% dari berat badan.Pada praktikum ini jumlah kosentrat yang diberikan berupa dedak dan kosentrat ayam broiler, jumlah yang telah diberikan sudah sesuai dengan kebutuhan nutrisi ternak.

2.             Pakan Hijauan

Pakan hijauan yang diberikan untuk sapi penggemukan dapat berupa rumput gajah, rumput lapangan, daun jagung, daun ubi jalar, daun kacang dan limbah pertanian linnya dalam bentuk segar.Untuk daerah lahan sawah irigasi biasanya hijauan segar sulit diperoleh. Sedangkan jerami cukup banyak tersedia.Oleh karena itu pakan hijauan sapi yang digemukkan di lahan sawah irigasi dapat diberikan jerami padi.Untuk meningkatkan kualitas jerami terlebih dahulu di buat silase melalui fermentasi.Namun apabila pakan hijauan di daerah itu cukup banyak tersedia, maka penggunaan jerami untuk pakan tidak perlu lagi.Untuk pemberian pakan hijauan kepada ternak ruminansia adalah 10% dari berat tubuh ternak. Pada praktikum ini hijauan rumput yang diberikan berupa rumput gajah dan rumput rawa dan sudah sesuai dengan kebutuhan ternak, dan rata-rata rumput selama praktikum berlangsung yang diberikan sebanyak 26,1 kg (Anonim, 2010)

Kosumsi pakan ternak domba

Pada praktikum ini domba yang digunakan adalah jenis domba ekor tipis, yang memiliki ciri tubuh yang kecil, ekor relatif kecil dan tipis, bulu bewarna putih, tidak bertanduk (betina), bertanduk kecil dan melingkar (jantan). Pakan utama yang umum diberikan berupa hijauan segar, seperti rumput, legume (daun lamtoro dan turi, dan lain-lain) atau aneka hijauan (daun singkong (protein cukup tinggi), daun nangka dan daun pepaya). Khusus legume dan aneka hijauan sebelum diberi pada ternak sebaiknya dilayukan terlebih dahulu 2-3 jam dibawah terik matahari untuk menghilangkan racun yang ada dalam hijauan tersebut.(Rozak, 2010).
Selain pakan hijauan, dapat juga ditambah dengan pakan padat /konsentrat.Jenis yang dapat digunakan adalah bekatul, ampas tahu, ketela pohon (dicacah dahulu).Jenis pakan tersebut mudah dan murah dibeli dengan sumbangan yang cukup lumayan untuk kebutuhan nutrisinya. Kebutuhan setiap ekor kira-kira 3 kg per hari dengan komposisi 40% berkatul 40% ampas tahu dan 20% ketela pohon. Teknik pemberian konsentrat disarankan jangan bersamaan dengan hijauan,  karena pakan ini mempunyai daya cerna dan kandungan nutrisi yang berbeda dengan hijauan. (Ridwan, 2009).
Saat praktikum pemberian pakan hijauan pada ternak domba didapat rata-rata yaitu 1,82 kg dalam 5 hari. Dalam pemberian kosentrat sebanyak 1% dari berat badan ternak dan pemberian pakan hijauan sebanyak 10% dari berat badan ternak.Khusus untuk pemberian legume, setelah legume dilayukan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ternak legume harus dipisahkan dari ranting-rantingnya, hal itu dilakukan agar didapat data bersih.Sedangkan untuk pemberian air, air diberikan tanpa batas dan selalu dicek kelayakan air. Pada praktikum ini pemberian kosentrat sama sekali tidak dimakan oleh ternak, hal itu mungkin dikarenakan kebiasaan ternak. Ternak sebaiknya dikenalkan terlebih dahulu untuk pakan kosentrat agar ternak tersebut mau makan kosentrat. Jika ternak tidak mau makan kosentrat saat sudah dewasa sebaiknya ternak tersebut harus diberi secara manual atau disuapi agar proses penggemukan berjalan dengan baik. Karena jika ternak hanya makan hijauan saja maka proses penggemukan ternak akan lama. Pada praktikum ini pemberian rumput sudah sesuai dengan kebutuhan nutrisi ternak tetapi pemberian kosentrat tidak, karena ternak tidak mau memakan kosentrat tersebut.

C.2. Produksi

1. Produksi sapi

            Untuk pengukuran produksi sapi yang harus diukur adalah tinggi badan, panjang badan, lingkar dada dan berat badan ternak.Untuk pengukuran produksi sapi dilakukan setiap hari setiap pagi saat praktikum kecuali pengukuran berat badan sapi yang hanya dilakukan pada awal praktikum dan akhir praktikum saja. Pada awal penimbangan berat badan sapi, sapi mempunyai berat badan 237,5 kg dan penimbangan berat badan terakhir adalah 249,5 yang artinya selama praktikum 5 hari berat badan sapi bertambah sebanyak 12 kg. Menurut Elfatah(2006) pertumbuhan produksi daging pada sapi bali 0,5 kg sampai 1 kg per hari. Hasil yang kami terima mungkin disebabkan timbangan berat badan sapi eror, sehingga didapat hasil yang tidak wajar, atau bisa disebabkan karena sapi yang dipelihara sedang bunting tua. Untuk panjang badan dan tinggi badan pada sapi tidak berubah selama praktikum sampai selesai yaitu untuk panjang badan sapi 113 cm dan tinggi badan sapi 115 cm. Untuk lingkar badan sapi bertambah dari yang 159 cm pada awal pengukuran menjadi 162 cm pada akhir pengukuran jadi selama 5 hari pertambahan lingkar badan sapi yaitu 3 cm. Performance produksi ternak dipengaruhi oleh iklim, tata laksana dan pakan, kebiasaan ternak  namun faktor pakan sangat mempengaruhi. Average daily growth adalah penambahan berat badan harian yang menentukan produksi ternak (Edi Sutrisno. 2013)
Cara penentuan umur sapi dapat diperkirakan dengan penentuan jumlah gigi seri yang tumbuh tetapi tidak selalu tepat. Tetapi dengan cara ini umur ternak dapat diperikrakan. (Sudarwati, 2004).
1.      Jika gigi susu belum ada yang lepas maka dapat diperkiraan umur ternak tersebut kurang 1 tahun.
2.      Jika sepasang gigi susu tengah sudah berganti dengan gigi tetap maka dapat diperkiraan umur ternaka tersebut 1 – 1,5 tahun.
3.      Jika dua pasang gigi susu tengah berganti dengan gigi tetap maka dapat diperkiraan umur ternak tersebut 1,5 – 2 tahun.
4.      Jika tiga pasang gigi susu berganti dengan gigi tetap maka dapat diperkiraan umur ternak tersebut 2,3 – 3 tahun.
5.      Jika seluruh gigi susu berganti dengan gigi tetap maka dapat diperkiraan umur ternak tersebut 4 tahun.
6.      Jika gigi tetap sudah usang maka dapat diperkirakan umur ternak tersebut sudah lanjut.
Jika dilihat sapi 4 seluruh gigi berganti berarti diperkirakan sapi berumur 3,5 tahun.

2.      Produksi domba

            Untuk pengukuran produksi domba yang harus diukur adalah tinggi badan, panjang badan, lingkar dada dan berat badan ternak. Untuk pengukuran produksi domba dilakukan setiap hari setiap pagi saat praktikum Pada awal penimbangan berat badan domba, domba mempunyai berat badan 10,9 kg dan penimbangan berat badan terakhir adalah 11.7 yang artinya selama praktikum 5 hari berat badan sapi bertambah sebanyak 0.8 kg.Hal ini dikarenakan ternak tidak mau memakan kosentrat. Untuk tinggi badan pada awal praktikum adalah 52 cm dan bertambah menjadi 53 cm pada akhir praktikum yang artinya selama praktikum 5 hari tinggi domba bertambah 1 cm. Untuk panjang badan domba pada awal praktikum sepanjang 50 cm dan bertambah menjadi 52 cm selama praktikum 5 hari yang artinya bertambah 2 cm. Pada lingkar badan domba yang awalnya 51 cm bertambah 1 cm selama praktikum 5 hari, pertumbuhan produksi pada domba terhambat dikarenakan domba hanya makan hijauan saja tetapi tidak makan kosentrat. Performance produksi ternak dipengaruhi oleh iklim, tata laksana dan pakan, kebiasaan ternak  namun faktor pakan sangat mempengaruhi. Average daily growth adalah penambahan berat badan harian yang menentukan produksi ternak (Edi Sutrisno. 2013).
Cara penentuan umur domba dapat diperkirakan dengan penentuan jumlah gigi seri yang tumbuh tetapi tidak selalu tepat. Tetapi dengan cara ini umur ternak dapat diperikrakan. (Sudarwati, 2004).
1.      Jika gigi susu belum ada yang lepas maka dapat diperkiraan umur ternak tersebut < 1 tahun.
2.      Jika sepasang gigi susu tengah sudah berganti dengan gigi tetap maka dapat diperkiraan umur ternaka tersebut 1 – 1,5 tahun.
3.      Jika dua pasang gigi susu tengah berganti dengan gigi tetap maka dapat diperkiraan umur ternak tersebut 1,5 – 2 tahun.
4.      Jika tiga pasang gigi susu berganti dengan gigi tetap maka dapat diperkiraan umur ternak tersebut 2,3 – 3 tahun.
5.      Jika seluruh gigi susu berganti dengan gigi tetap maka dapat diperkiraan umur ternak tersebut 4 tahun.
6.      Jika gigi tetap sudah usang maka dapat diperkirakan umur ternak tersebut sudah lanjut.
Jika dilihat domba 3 dua pasang gigi susu tengah berganti dengan gigi tetap berarti diperkirakan domba tersebut berumur 1,5 sampai 2  tahun.

C.3. Fisiologis

1. Fisiologis pada sapi

Menurut (Sientje, 2004) Fisiologis ternak meliputi suhu tubuh, respirasi dan denyut jantung.Suhu tubuh hewan homeotermi merupakan hasil keseimbangan dari panas yang diterima dan dikeluarkan oleh tubuh.Dalam keadaan normal suhu tubuh ternak sejenis dapat bervariasi karena adanya perbedaan umur, jenis kelamin, iklim, panjang hari, suhu lingkungan, aktivitas, pakan, aktivitas pencernaan dan jumlah air yang diminum.Suhu normal adalah panas tubuh dalam zone thermoneutral pada aktivitas tubuh terendah. Variasi normal suhu tubuh akan berkurang bila mekanisme thermoregulasi telah bekerja sempurna dan hewan telah dewasa. Salah satu cara untuk memperoleh gambaran suhu tubuh adalah dengan melihat suhu rectal dengan pertimbangan bahwa rectal merupakan tempat pengukuran terbaik dan dapat mewakili suhu tubuh secara keseluruhan sehingga dapat disebut sebagai suhu tubuh.
Respirasi adalah proses pertukaran gas sebagai suatu rangkaian kegiatan fisik dan kimis dalam tubuh organisme dalam lingkungan sekitarnya. Oksigen diambil dari udara sebagai bahan yang dibutuhkan jaringan tubuh dalam proses metabolisme. Frekuensi respirasi bervariasi tergantung antara lain dari besar badan, umur, aktivitas tubuh, kelelahan dan penuh tidaknya rumen (Anonim, 2004). Kecepatan respirasi meningkat sebanding dengan meningkatnya suhu lingkungan.Meningkatnya frekuensi respirasi menunjukkan meningkatnya mekanisme tubuh untuk mempertahankan keseimbangan fisiologik dalam tubuh hewan. Kelembaban udara yang tinggi disertai suhu udara yang tinggi menyebabkan meningkatnya frekuensi respirasi.Frekuensi denyut nadi dapat dideteksi melalui denyut jantung yang dirambatakan pada dinding rongga dada atau pada pembuluh nadinya. Frekuensi denyut nadi bervariasi tergantung dari jenis hewan, umur, kesehatan dan suhu lingkungan. Disebutkan pula bahwa hewan muda mempunyai denyut nadi yang lebih frekuen daripada hewan tua. Pada suhu lingkungan tinggi, denyut nadi meningkat. Peningkatan ini berhubungan dengan peningkatan respirasi yang menyebabkan meningkatnya aktivitas otot-otot respirasi, sehingga dibutuhkan darah lebih banyak untuk mensuplai O2 dan nutrient melalui peningkatan aliran darah dengan jalan peningkatan denyut nadi. Bila terjadi cekaman panas akibat temperatur lingkungan yang tinggi maka frekuensi pulsus ternak akan meningkat, hal ini berhubungan dengan peningkatan frekuensi respirasi yang menyebabkan meningkatnya aktivitas otot-otot respirasi, sehingga memepercepat pemompaan darah ke permukaan tubuh dan selanjutnya akan terjadi pelepasan panas tubuh. Frekuensi Pulsus sapi dalam keadaan normal adalah 54-84 kali per menit atau 40-60 kali per menit dan sapi muda 80-90 kali per menit (Sherwood 2004).
Dalam praktikum ini rata-rata temperature rectal sapi adalah 37oC sedangkan untuk suhu normal rectal sapi adalah 37oc – 40oc, untuk perhitungan rata-rata respirasi adalah 28 kali/menit, sedangkan rata-rata denyut nadi sebanyak 46 kali/menit. Sapi pada suhu dingin menyesuaikan diri dengan mengurangi frekuensi nafasnya agar menjaga suhu tubuh,dan juga tidak terlalu cepat detak jantungnya. Sebaliknya sapi pada suhu tinggi menyesuaikan suhu tubuhnya dengan mengeluarkan suhu tubuh dengan banyak nafas atau mempercepat nafas, dan detak jantungnya. Umur sapi juga mempengaruhi nafas, pulsus, dan suhu. Pada sapi yang lebih tua nafas lebih cepat, detak jantung lebih cepat dan suhu tubuh lebih tinggi.
Kelembaban udara akan berbanding terbalik dengan temperature udara, semakin tinggi kelembaban udara maka semakin rendah temperature udaranya. Kelembaban udara rata-rata sapi kelompok 4 adalah 61% .

2. Fisiologis pada domba

Menurut (Sientje, 2004) Fisiologis ternak meliputi suhu tubuh, respirasi dan denyut jantung.Suhu tubuh hewan homeotermi merupakan hasil keseimbangan dari panas yang diterima dan dikeluarkan oleh tubuh.Dalam keadaan normal suhu tubuh ternak sejenis dapat bervariasi karena adanya perbedaan umur, jenis kelamin, iklim, panjang hari, suhu lingkungan, aktivitas, pakan, aktivitas pencernaan dan jumlah air yang diminum.Suhu normal adalah panas tubuh dalam zone thermoneutral pada aktivitas tubuh terendah. Variasi normal suhu tubuh akan berkurang bila mekanisme thermoregulasi telah bekerja sempurna dan hewan telah dewasa. Salah satu cara untuk memperoleh gambaran suhu tubuh adalah dengan melihat suhu rectal dengan pertimbangan bahwa rectal merupakan tempat pengukuran terbaik dan dapat mewakili suhu tubuh secara keseluruhan sehingga dapat disebut sebagai suhu tubuh. Rata-rata suhu rectal pada domba saat praktikum adalah 37,9oc dibandingkan dengan suhu normalnya adalah 37 oc -40oc. Pada pengukuran resipirasi didapat nilai rata-ratanya yaitu 46 kali / menit dan rata-rata denyut jantung 88 kali / menit dibandingkan dengan nilai respirasi noramal yaitu 26-32 kali/menit. Sedangkan nilai normal denyut jantung domba normal adalah 60-12 kali/menit, ketidak normalnya pengukuran fisiologis pada domba dapat disebabkan karena ada perlawaan terhadap praktikan saat paraktikum (Basuki. 2006). Kelembaban udara akan berbanding terbalik dengan temperature udara, semakin tinggi kelembaban udara maka semakin rendah temperature udaranya. Temperature udara rata-rata untuk domba kelompok 3 adalah 28oc .

C.4. Umur Ternak dan Estimasi BCS

a.       Umur Ternak dan Estimasi BCS Sapi kelompok 4
b.      Umur Ternak dan Estimasi BCS domba kelompok 3
Menurut Sastromijoyo (2004) untuk menentukan umur sapi yang paling tepat adalah dengan melihat catatan kelahiran si ternak, tetapi hal tersebut sulit dilakukan dalam praktek, apalagi terhadap ternak rakyat, hanya peternak perusahaan yang biasanya mencatat kelahiran si ternak tersebut.
Cara yang akan digunakan untuk menafsirkan umur si ternak tersebut adalah dengan Metode Gigi.Penafsiran umur dengan melihat perkembangan dan pergantian gigi seri serta terasahnya gigi seri (permanen). Pada pedet terasahnya gigin tidak seberapa karena makanannya hanya diberi air susu, sedangkan pada sapi dewasa terasahnya lebih banyak karena pakannya dalam bentuk keras (Puspa, 2006).
Ternak ruminansia tidak mempunyai gigi taring.Gigi seripun hanya terdapat pada rahang bawah.Sedangkan rahang atas hanyalah berupa bantalan tenunan pengikat yang kuat.Gigi geraham terdapat pada kedua rahang. Jumlah gigi seri ada 4 pasang (8 buah) geraham depan 12 buah dan geraham belakang ada 12 buah. Jadi jumlah gigi domba yang lengkap ada 32 buah. Gigi seri yang tumbuh pada umur muda disebut gigi seri susu. Gigi susu ini kecil dan agak tajam serta tumbuhnya agak renggang satu sama lain. Gigi seri susu ini sifatnya hanya sementara. Karena pada suatu saat akan tanggal (rontok) dan digantikan dengan gigi seri tetap. Pergantian gigi seri susu dan gigi seri tetap ini yang digunakan untuk menaksir umur ternak. Sedangkan pada ternak tua ditaksir berdasarkan keausan gigi seri ini, berhubungan dengan kondisi pakan.Ternak yang dilepas/diangon, gigi serinya relatif lebih cepat tanggal atau aus dari pada tenrak yang dikandangkan.Menentukan umur ternak domba kurang dari 1 tahun jumlah gigi seri tetap belum ada. Namun memiliki gigi susu. Sepasang gigi tetap (sebanyak 2 buah) umur ternak domba kurang lebih 1 sampai dengan 2 tahun.Dua pasang gigi tetap (4 buah gigi tetap) menandakan umur tersebut 2-3 tahun.Juga pasang gigi tetap (6 buah) berumur 3-4 tahun.Jika ternak memiliki empat pasan ggigi tetap (8 buah) harus berumur 4-5 tahun.Tetapi jika gigi tetap aus dan mulai lepas maka ternak tersebut berumur diatas 5 tahun.
Prinsip taksiran dari gigi adalah memperhitungkan pertumbuhan, penggantian dan keausan gigi ternak. Pertumbuhan gigi ternak terbagi tiga periode yaitu, periode gigi susu, periode penggantian gigi susu menjadi gigi tetapserta periode kausan gigi tetap Adapun untuk menentukan umur sapi yang perlu diperhatikan adalah kondisi gigi yang meliputi pertukaran gigi seri susu dengan gigi seri tetap, perecupan gigi seri, pergesekan, dan bintang gigi. Jika gigi seri susu I1 sudah berganti dengan gigi seri tetap dan sudah merecup, berarti umur sapi 2 tahun. Jika gigi seri susu I2 sudah berganti dan merecup, berarti umur sapi 3 tahun. Jika gigi seri susu I3 sudah berganti dan merecup, umur sapi 3,5 tahun. Jika semua gigi seri telah berganti (I4) dan merecup, umur sapi 4 tahun.Jika I4 ada tanda pergesekan, berarti umur sapi 5 tahun.(Timan 2005).
Pada foto sapi 4 dapat ditafsirkan bahwa umur si sapi tersebut sekitar 3 sampai 4 tahun, karena pada sapi 4 seluruh gigi susu berganti dengan gigi tetap maka dapat diperkiraan umur ternak tersebut 4 tahun. Sedangkan pad foto domba 3 dapat ditafsirkan bahwa umur si domba tersebut antara 1.5 sampai 2 tahun karena dua pasang gigi susu tengah berganti dengan gigi tetap berarti diperkirakan domba tersebut berumur 1,5 sampai 2  tahun.
Sistem penilaian yang umum telah dikembangkan untuk memperkirakan rata-rata kondisi tubuh sapi dalam populasi.Sistem penilaian ini menyediakan skor relatif berdasarkan evaluasi timbunan lemak dalam hubungannya dengan fitur kerangka.Kondisi tubuh untuk sistem penilaian yang paling banyak digunakan untuk sapi memberikan skor dari 1 (kurus dan hampir tidak ada lemak) sampai 9 (berlebihan lemak). Penilaian 1-3 adalah kurus, nomor 4 tergolong  perbatasan, 5-6 yaitu optimal, sedangkan 7-9 adalah gemuk (Putri, 2004).
1.      BCS 1 (Kurus parah) yaitu dimana ternak kelaparan dan lemah, tidak ada lemak terditeksi di punggung, pinggul atau tulang rusuk. Tulang rusuk terlihat mencolok, semua struktur rangka terlihat tajam dan biasanya ternak terserang penyakit. Dalam sistem produksi normal ternak diBCS ini jarang terjadi.
2.      BCS 2 (Kurus) yaitu Mirip dengan BCS 1, tetapi tidak lemah, jaringan otot sedikit terlihat, tailhead dan iga kurang menonjol.
3.      BCS 3 ( Sangant Kurus) yaitu dimana ternak tidak ada lemak di atas tulang rusuk atau punggung, tulang punggung mudah terlihat, sedikit peningkatan dalam otot.
4.      BCS 4 (Perbatasan) yaitu tulang rusuk ternak terlihat kurang tertutup lemak secara keseluruhan, otot meningkat melalui bahu dan kaki belakangnya, pinggul dan tulang punggung terlihat sedikit membulat dibandingkan penampilan tajam BCS 2.
5.      BCS 5 ( Sedang) yaitu lemak yang menutupi tulang rusuk meningkat, tulang rusuk umumnya hanya dibedakan 12 dan 13 secara individual, tailhead penuh tetapi tidak bulat.
6.      BCS 6 (Baik) yaitu tulang rusuk belakang dan tailhead terlihat agak bulat dan ketika diraba sedikit ada penumpukan lemak pada punggung.
7.      BCS 7 (Gemuk) yaitu munculnya daging dan lemak dan ke belakang tailhead, dan punggung, serta tulang rusuk tidak lagi terlihat. Daerah vulva dan rectum eksternal mengandung timbunan lemak sedang, pada ambing terlihat sedikit berlemak.
8.      BCS 8 (Sangat gemuk) yaitu kuadrat penampilan karena kelebihan lemak di punggung, tailhead dan bagian belakangnya. Penumpukan lemak ekstrim di punggung dan seluruh tulang rusuk, lemak yang berlebihan di sekitar vulva dan rectum, mobilitas dalam ambing mungkin mulai dibatasi.
9.      BCS 9 (Obesitas) yaitu dimana ternak tersebut mirip dengan BCS 8, tetapi untuk tingkat yang lebih besar mayoritas lemak disimpan pada ambing yang terbatas efektifitas laktasi. Dalam sistem produksi normal ternak di BCS ini jarang terjadi.
Pada praktikum ini ternak yang dipelihara selama 5 hari pada ternak sapi dapat perkirakan bahwa ternak sapi 4 memiliki BCS 7 munculnya daging dan lemak dan ke belakang tailhead, dan punggung, serta tulang rusuk tidak lagi terlihat. Daerah vulva dan rectum eksternal mengandung timbunan lemak sedang, pada ambing terlihat sedikit berlemak. Sedangkan pada domba susah untuk diperkirakan karena domba tersebut tertutup dengan bulu wol.



C.    KESIMPULAN DAN SARAN

C.1. KESIMPULAN

·         Dari  praktikum yang telah dilakukan selama 10 hari diperoleh kesimpulan yaitu kandungan nutrisi pada rumput gajah jauh lebih baik dibandingkan dengan rumput rawa, kandungan protein pada kosentrat yaitu dedak padi adalah 10%.
·         Pada pengukuran fisiologis mempunyai data yang berbeda-beda hal itu dikarenakan faktor lingkungan dan faktor dari peternaknya sendiri, ternak memberontak saat praktikan akan melakukan praktikum, sehingga menyebabkan fisiologis ternak berubah secara drastis.
·         Melihat catatatan kelahiran ternak dari si peternak adalah hal yang paling tepat untuk menentukan umur si ternak tersebut. selain itu dapat pula umur ternak ditafsirkan dengan menggunakan metode rumus gigi. BCS pada sapi kelompok 4 yaitu 7 sedangkan pada domba tidak bisa ditentukan karena tertutup wol.

C.2. SARAN

            Ada beberapa hal yang harus diefaluasi agar praktikum kedepanya jauh lebih baik yaitu:
1.      Peralatan kebersihan setiap kelompok harus disediakan agar tidak memakan waktu lama.
2.      Tempat penampungan air sebaiknya tersedia di beberapa tempat karena agar saat praktikum tidak mengantri terlalu lama.



D.    DAFTAR PUSTAKA

Sherwood 2004 Sapi Bali. Penebar Swadaya, PT. Jakarta
Sugeng.2005 Penggemukan Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta
Anonim 2007 Status-Faali http://ditanyamengapa.blogspot.com/2011/04/status-faali.html (diakses pada tanggal 05 Oktober 2014)
Anonim, 2004 Fisiologi Frekuensi Nafas Pulsus dan http://sismami-ayu.blogspot.com/2011/07/fisiologi-frekuensi-nafas-pulsus-dan.html (diakses pada tanggal 06 Oktober 2014)
Anonim, 2009 Manajemen Pakan Pada Ternak Sapi Potong http://chalikchadit.blogspot.com/2012/02/manajemen-pakan-pada-ternak-sapi-potong.html (diakes pada tanggal 05 Oktober 2014)
Anonim, 2010 Membuat Pakan Ternak Sapi Potong Modern, http://www.usahaternak.com/2014/04/membuat-pakan-ternak-sapi-modern.html (diakses pada tanggal 05 Oktober 2014)
Anonim, 2011 Pakan Ternak Sapi Bali http://peternakanunhas.blogspot.com/2011/04/pakan-ternak-sapi-bali.html (diakses pada tanggal 04 Oktober  2014)
Anonim, 2013 Sapi Bali http://ripk78.blogspot.com/2013/06/sapi-bali.html (diakses pada tanggal 04 Oktober 2014)
Basuki. 2006 Pengukuran Data Fisiologi http://c31121142.blogspot.com/2013/06/pengukuran-data-fisiologi.html (diakses pada tanggal 06 Oktober 2014)
Edi Sutrisno. 2013 Penerapan Teknologi Reproduksi Dalam http://afendigenepo.blogspot.com/2012/03/penerapan-teknologi-reproduksi-dalam.html (diakses pada tanggal 06 Oktober 2014)
Elfatah, 2006 Performans Produksi dan Reproduksi Sapi http://ekhoadx.blogspot.com/2013/10/performans-produksi-dan-reproduksi-sapi.html (diakses pada tanggal 06 Oktober 2014)
Puspa, 2006 Rumus Gigi Sapi http://gemaputri.blogspot.com/2009/12/rumus-gigi-sapi.html (diakses pada tanggal 07 Oktober 2014)
Putri, 2004 Body Condition Score BCS http://patisewubahurekso.blogspot.com/2012/03/body-condition-score-bcs.html (diakses pada tanggal 07 Oktober 2014)
Ridwan, 2009 Pakan Ternak Sapi Bali, http://peternakanunhas.blogspot.com/2011/04/pakan-ternak-sapi-bali.html (diakses pada tanggal 04 Oktober 2014)
Rozak, 2010 Beternak Sapi  Bali 3 http://uripsantoso.wordpress.com/2010/01/17/beternak-sapi-bali-3/ (diakses pada tanggal 05 Oktober 2014)
Sastromijoyo, 2004 Cara Penafsiran Umur Pada Ternak http://peternakanjunaedi.blogspot.com/2011/06/cara-penafsiran-umur-pada-ternak.html (diakses pada tanggal 06 Oktober 2014)
Sientje, 2004 Laporan Praktikum Fisiologi Ternak http://restiugm2012.blogspot.com/2013/06/laporan-praktikum-fisiologi-ternak.html (diakses pada tanggal 06 Oktober 2014)
Siregar. 2007 Domba Biologi http://tjoetnakkkkk.blogspot.com/2011/01/domba-biologi.html (diakes pada tanggal 04 Oktober 2014)
Sudarwati, 2004 Menafsir Umur Ternak http://gemaputri.blogspot.com/2009/12/menafsir-umur-ternak.html (diakses pada tanggal 06 Oktober 2014)
Timan 2005 Tafsiran Umur dan Berat Badan http://d3veeteriner.blogspot.com/2012/04/tafsiran-umur-dan-berat-badan.html (diakses pada tanggal 07 Oktober 2014)

E.     LAMPIRAN

Lampiran 1 Konsumsi Pakan Sapi

Lampiran 2 Konsumsi  Pakan Domba

Lampiran 3 Fisiologis Sapi

Lampiran 4 Fisiologis Domba

Lampiran 5 Produksi Sapi

Lampiran 6 Produksi Domba

Lampiran 7 Rekapitulasi Kosumsi Pakan Hijauan dan Kosentrat (kg/hari)

Lampiran 8 Rekapitulasi Kosumsi Pakan Hijauan dan Kosentrat (%)

Lampiran 9 Rekapitulasi Pengukuran Temperaktur Rektal (oc)

Lampiran 10 Rekapitulasi Penimbangan berat badan (kg)

Lampiran 11 Rekapitulasi Pertambahan Berat badan (kg/hari)




Lampiran 12 Foto Sapi

Lampiran 13 Foto Domba

No comments:

Post a Comment