LAPORAN
PRAKTIKUM
MK. PRODUKSI
TERNAK POTONG dan KERJA
Oleh:
Hendro Sulistiyo
NPM: E1C013094
Jurusan Peternakan-Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu
Oktober 2014
KATA PENGANTAR
Syukur
Alhamdulillah penyusun panjatkan kehadrat Allah S.W.T yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah Nya, karena penyusun dapat menyelesaiakan penyusunan laporan
ini sesuai dengan jangka waktu yang telah diberikan oleh pihak kampus. Dari
hasil yang telah dilakukan dan dicapai selama penyusun mengikuti proses
praktikum di kandang UNIVERSITAS BENGKULU selama 10 hari dari tanggal 15
September sampai dengan 24 September 2014, penyusun banyak mendapatkan
pengetahuan yang lain di dalam dunia peternakan dan yang terutama sekali
penyusun juga banyak mendapatkan pengalaman berharga yang tak ternilai. Dan
dengan bersumber dari hal-hal tersebut, akhirnya menjadi dasar dan bahan bagi
penyusunan laporan ini.
Sebelum melanjutkan
penyusunan, terlebih dahulu penyusun mengucapkan terima kasih kepada:
1.
Allah S.W.T yang telah memberikan kesehatan
jasmani dan rohani
2.
Kedua orang tua penyusun yang telah
memberi dorongan dan semangat.
3.
Bpk. Dwatmadji, Dr. Ir., M.Sc selaku
dosen pembimbing.
4.
Asisten dosen yang telah memberikan
bimbingan saat praktikum maupun pembuatan laporan.
5.
Seluruh teman-teman mahasiswa
peternakan.
6.
Semua pihak yang tidak dapat penyusun
sebutkan satu persatu yang senantiasa selalu membantu baik moral maupun materi,
sehingga penyusun dapat melanjutkan penyusunan laporan ini hingga selesai pada
akhirnya.
Penyusun
mengakui bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, dengan dasar itu penulis
mohon kritik dan saran yang sifatnya membangun.
Semoga laporan ini berguna,
khususnya untuk penyusun dan pembaca pada umumnya.
Bengkulu,
Oktober 2014
Penyusun
Hendro Sulistiyo
DAFTAR ISI
A. MATERI DAN METODE
B.1. Jadwal Pelaksanaan dan Daftar Anggota Kelompok
B.1.1 Daftar nama kelompok sapi 4
No
|
Nama
|
NPM
|
1
|
Hendro Sulistiyo
|
E1C013094
|
2
|
Yuhan Kusnadi
|
E1C013124
|
3
|
Veronika Nababan
|
E1C013085
|
4
|
Melisna Febriani
|
E1C013107
|
5
|
Rifky Adwiansyah
|
E1C013024
|
6
|
Sargie Santi Banes
|
E1C013052
|
7
|
Ramadhan Sumanto
|
E1C013125
|
8
|
Muhyidin
|
E1C013009
|
Jadwal kegiatan praktikum dilakukan mulai hari senin
tanggal 15 September 2014 sampai hari jum’at tanggal 19 september 2014.
B.1.2 Daftar nama kelompok domba 3
No
|
Nama
|
NPM
|
1
|
Hendro Sulistiyo
|
E1C013094
|
2
|
Septian Arianto
|
E1C0130
|
3
|
Nurma Apriyanti
|
E1C013054
|
Jadwal kegiatan praktikum dilakukan mulai hari sabtu
tanggal 20 september 2014 sampai hari rabu tanggal 24 september 2014.
B.2. Materi
Sapi
bali merupakan sapi potong asli Indonesia yang merupakan hasil dari domestikasi
dari banteng (Bibos banteng) adalah jenis sapi yang unik, hingga saat ini masih
hidup liar di Taman Nasional Bali Barat. Ciri-ciri sapi bali antara lain:
·
Warna bulu pada badanya akan berubah
sesuai usia dan jenis kelaminya, sehingga termasuk hewan dimoprhsm-sex. Pada
saat masih “pedet”, bulu badannya berwarna sawo matang sampai kemerahan,
setelah dewasa sapi bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan
sapi bali betina. Warna bulu sapi bali jantan biasanya berubah dari merah bata
menjadi coklat tua atau hitam setelah sapi itu dikebiri, yang disebabkan
pengaruh hormone testosterone.
·
Kaki di bawah persendian karpal dan
tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian
pantatnyadan pad paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval
(white mirror). Warna bulu putih juga dijumpai pada bibir atas/bawah, ujung
ekor dan tepi daun telinga. Kadang-kadang bulu putih terdapat di antara bulu
yang coklat yang merupakan kekecualian atau penyimpangan ditemukan sekitar
kurang dari 1%. Bulu sapi bali dapat dikatakan bagus (halus) pendek-pendek dan
mengkilap. (Anonim, 2013)
·
Ukuran badan berukuran sedang dan bentuk
dalam memanjang.
·
Kepala agak pendek dengan dahi datar.
·
Badan padat dengan dada yang dalam.
·
Tidak berpunuk dan seolah tidak
bergelambir.
·
Kakinya ramping, agak pendek menyerupai
kaki kerbau.
·
Pada punggungnya selalu ditemukan bulu
hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.
·
Cermin hidung, kuku dan bulu ujung
ekornya berwarna hitam.
·
Tanduk pada sapi jantan tumbuh agak ke
bagian luar kepala, sebaliknya untuk jenis sapi betina tumbuh dibagian dalam.
Domba
(ovis) yaitu ternak ruminansia dengan
rambut tebal dan dikenal banyak orang karena dipelihara untuk dimanfaatkan
rambut (wol), daging, dan susunya. Yang palling dikenal orang adalah domba
peliharaan (ovis aries), yang diduga
keturunan dari moufflon liar dari Asia Tenggara selatan dan barat-daya. Untuk
tipe lain dari domba dan kerabat dekatnya, lihat kambing antilop. Domba berbeda
dengan kambing.
Klasifikasi
Phylum : Chordata
Sub
Phylum : Vetebrata
Class : Mamalia
Ordo : Ungulata
Sub
Ordo : Artiodactylata
Familia : Coroviane
Genus : Ovis
Species : Ovis orientalisi (Siregar, 2007)
Domba
ekor tipis merupakan domba yang banyak terdapat di jawa barat dan jawa
tengah.Domba ini termasuk golongan domba kecil, dengan berat potong 20-30
kg.warna bulu putih dan biasanya memiliki bercak hitam di sekeliling matanya.
Ekornya tidak menunjukan adanya desposisi lemak.Domba jantan memiliki tanduk
melingkar, sedangkan yang betina biasanya tidak bertanduk.Bulunya berupa wol
yang kasar.
Pakan
yang diberikan untuk ternak adalah pakan yang umum digunakan yaitu rumput dan
kosentrat, rumput yang diberikan 10% dari berat badan, missal berat sapi 200 kg
makan rumput yang diberikan minimal 20 kg dan 1% kosentrat dari berat badan.
Kosentrat yang diberikan campuran dedak dengan kosentrat ayam broiler.
Kandang
yaitu tempat dimana ternak akan tinggal dan berlindung dari segala ancaman yang
berasal dari luar, serta tempat untuk memudahkan peternak untuk mengurus
ternaknya. Kandang dibuat harus sesuai dengan lingkungan sekitar dan ekonomis
sehingga akan membuat ternak menjadi nyaman. Kandang domba biasanya dibuat
dalam tipe A dengan konstruksi atap terbuat dari seng bentuk kandang panggung
dengan lantai dan dinding terbuat dari papan kayu dan diberi sekat pemisah
antar domba satu dengan yang lain. Untuk kandang sapi tipe A dimana dalam satu
kandang diberi sekat pemisah antara sapi yang satu dengan yang lain, hal ini
bertujuan supaya saat makan dapat diberikan secara merata atau tidak saling
berebut.
Peralatan
yang digunakan antara lain waktu penghitung (jam atau handphone) thermometer,
timbangan, pita ukur, sabit ember dan alat untuk kebersihan kandang antara lain
sapu dan cangkul.
·
Waktu penghitung berfungsi sebagai alat
penghitung waktu saat mengukur fisiologis ternak.
·
Handphone kamera berfungsi untuk memfoto
gigi ternak
·
Thermometer berfungsi untuk mengukur
suhu rectal ternak
·
Timbangan berfungsi untuk menimbang
rumput, kosentrat dan air minum yang akan diberikan ataupun sisa dari itu.
·
Pita ukur berfungsi untuk mengukur
tinggi ternak, lingkar badan ternak serta panjang ternak.
·
Sabit berfungsi untuk memoton
kecil-kecil rumput yang terlalu panjang supaya memudahkan ternak untuk
memakannya.
·
Ember berfungsi untuk tempat air minum
atau kosentrat yang akan diberikan kepada ternak.
·
Dan alat kebersihan berfungsi untuk
membersihkan kandang yang terlalu kotor.
B.3. Metode
B.3.1 Cara pengukuran Produksi ternak
a.
Pengukuran berat badan ternak :
·
Pada praktikum hari pertama sapi dan
domba ditimbang berat badanya, data ini sebagai data berat awal ternak.
·
Untuk ternak domba penimbangan berat
badan dilakukan setiap hari, sedangkan untuk ternak sapi penibangan berat badan
dilakukan pada awal dan akhir praktikum.
·
Pertambahan berat badan ternak dapat
diketahui dengan caraberat penimbangan akhir dikurangi berat penimbangan awal.
b.
Pengukuran panjang badan ternak:
·
Siapkan pita ukur dan kendalikan ternak
dengan baik sampai ternak menjadi tenang.
·
Ukur panjang badan ternak mulai dari
tulang pinggul sampai scapula
c.
Pengukuran tinggi badan ternak :
·
Ternak harus dalam posisi yang bagus dan
berdiri di tempat yang datar.
·
Pengukuran tinggi badan dapat dilakukan
dengan meletakkan tongkat ukur, dari tanah sampai titik tertinggi pada pundak.
·
Pengukuran tinggi badan ternak dilakukan
setiap hari setiap pagi saat praktikum.
d.
Pengukuran lingkar dada :
·
Siapkan pita ukur dan kendalikan ternak
dengan baik sampai ternak menjadi tenang.
·
Ukur lingkar dada mulai dari perut
bagian depan sampai bagian atas gumba.
e.
Kosumsi pakan
·
Pakan yang diberikan adalah berupa
hijauan segar dan konsentrat, sebelum pakan diberikan, pakan yang berupa
hijauan segar dan konsentrat serta air minum ditimbang terlebih dahulu.
·
Pemberian pakan dan air pada pagi hari,
serta dapat ditambahkan siang dan sore jika pakan dan air minum kurang. Untuk
pemberian pakan hijauan sebanyak 10% dari berat badan ternak, pakan kosentrat
sebanyak 1% dari berat badan serta air diberikan terus menerus tanpa batas.
·
Pada pagi keesokan harinya sisa pakan
hijauan serta kosentrat dan air ditimbang untuk mengetahui berapa banya
kosumsinya.
·
Kosumsi pakan ternak jumlah seluruh
pemberian pakan dan air minum dikurangi sisanya.
B.3.2 Fisiologis dan Lingkungan
a. Suhu
rektal :
·
Siapkan thermometer dan kalibrasikan
thermometer tersebut sebelum digunakan.
·
Ternak dikendalikan dengan baik sampai
ternak menjadi jinak
·
Masukkan thermometer rectal kedalam
rectum ternak sampai suhu thermometer konstan dan catat suhu pada thermometer.
b. Respirasi:
·
Siapkan stopwatch atau handphone (penghitung
waktu)
·
Untuk mengukur respirasi dapat dilakukan
dengan cara melihat gerak pernapasan pada perut atau merasakan hembusan nafas
dengan telapak tangan selama setengah menit.
·
Pengukuran dilakukan pada pagi, siang
dan sore hari saat praktikum.
c. Denyut
jantung :
·
Siapkan stopwatch atau handphone
(penghitung waktu)
·
Untuk mengukur denyut jantung pada
ternak biasanya letaknya pada ekor bagian pangkal dalam atau kaki bagian atas
dalam.
·
Hitung denyut jantung selama 30 detik
d. Kondisi
lingkungan
·
Temometer diletakkan didalam kandang
·
Setelah beberapa menit lihat suhu dan
kelembapan kandang.
e. Estimasi
umur ternak
·
Umur ternak dapat diprediksi dengan
menggunakan rumus gigi.
·
Foto gigi ternak dan gunakan rumus gigi
menurut referensi yang ada.
f. BCS
·
BCS pada ternak dapat ditentukan hanya
menggunakan visual saja, BCS ada 1 sampai 9.
·
Lihat pada referensi yang ada untuk
menentukan BCS pada ternak.
B. HASIL DAN PEMBAHASAN
C.1. Kosumsi pakan
Kosumsi pakan ternak sapi
Sapi
bali merupakan sapi potong asli Indonesia. Sapi maupun ternak ruminansia
lainnya mempunyai keterbatasan dalam mengkonsumsi ransum.Hijauan maupun
rumput-rumputan yang tumbbuh di daerah tropis seperti Indonesia relative cepat
tumbuh, tetapi kandunga gizinya relative rendah.Oleh
karena itulah, sapi-sapi yang digemukkan dengan hanya memberikan hijauan saja
tanpa adanya penambahan pakan ini berupa konsentrat tidak mungkin mencapai
pertambahan bobot badayang tinggi (Anonim, 2011). Untuk penggemukan sapi dalam
waktu yang relative singakat maka ransom yang diberikan haruslah terdiri dari
hijauan dan konsentrat. Penggemukan sapi dalam waktu yang relative singakt
berarti pertambahan bobot badan yang akan disapai harus tinggi (Sugeng, 2005).
Pada umumnya ternak sapi lebih menyukai
rumput hijauan ini dikarenakan sapi adalah hewan herbivore (pemakan
rumput).Rumput memiliki berbagai jenis dan spesies.Pada umumnya rumput yang
sering dikondumsi oleh ternak sapi ialah rumput gajah, rumput benggala dan
lain-lainnya (Anonim, 2007). Pada proses penggemukan sapi bali kita menfokuskan
pada pemberian rumput gajah, ini lebih efisien karena tersedianya lahan rumput
gajah yang telah tersedia. Disamping jenis pakan rumput kita memberikan
campuran konsentrat dengan komposisi dedak halus 60-80 %, dan dapat dilakukan
sebagai gantinya yaitu ampas pabrik tahu, mineral 1-2 %, garam (NaCl) 1-2 %,
molasses 2-3 % dan air secukupnya. Pembuatan pakan ini sangatlah mudah yaitu
dengan mencampurakan bahan pakan yang tersedia dengan baik dan merata kemudian
mencampurnya dengan air hingga terbentuk adonan.Perlu diketahui bahwa
penggemukan yang dilakukan pada praktikum ini dengan jumlah ternak yang
digemukkan sebanyak dua ekor dengan jenis kelamin jantan. Pemberian pakan
berupa rumput hijauan diberikan pada pagi harinya namun pengambilan (cut and carry
system) dilakukan pada sore harinya dalam artian rumput dibermalamkan ini
bertujuan agar kandungan air pada rumput hijaun dapat berkurang dengan demikian
akan memberikan tingkat palatabilitas pakan lebih baik dan ini disukai oleh
ternak. Manajemen ini dilakukan berdasarkan pada pengaruh pemberian pakan basah
pada ternak yang dapat memberi dampak negative misalnya terserang penyakit
parasit nematode, trematoda dan cestoda.Ada bebrapa persiapan ransom
penggemukan yang perlu dipertimbangka dalam melakukan penggemukansapi bali yang
terdiri dari pakan konsentrat, pakan hijauan dan suplemen atau mineral.
(Anonim, 2009)
1. Pakan Konsentrat
Pakan konsentrat untuk sapi di lahan
sawah irigasi dapat berupa dedak, jagung, dedak padi, onggok, gaplek, ampas
tahu, bungkil kelapa atau bungkil kedele, disesuaikan dengan kondisi dan
ketersediaan di derah setempat.Jumlah konsentrat yang diberikan sangat
tergantung pada bahan yang diberikan, derajat kekeringan, bobot badan sapi dan
target kenaikan bobot badan per hari per ekor yang diinginkan. Waktu
pemberian pakan konsentrat sebaiknya
pagi hari antara pukul 8 – 9 pagi sebelum pemberian hijauan dalam jumlah banyak
dan jangan kaget kalau sementara waktu sapi menjadi mencret. Jumlah pemberian
pakan kosentrat untuk ternak ruminansia adalah 1% dari berat badan.Pada
praktikum ini jumlah kosentrat yang diberikan berupa dedak dan kosentrat ayam
broiler, jumlah yang telah diberikan sudah sesuai dengan kebutuhan nutrisi
ternak.
2. Pakan Hijauan
Pakan hijauan yang diberikan untuk sapi
penggemukan dapat berupa rumput gajah, rumput lapangan, daun jagung, daun ubi
jalar, daun kacang dan limbah pertanian linnya dalam bentuk segar.Untuk daerah
lahan sawah irigasi biasanya hijauan segar sulit diperoleh. Sedangkan jerami
cukup banyak tersedia.Oleh karena itu pakan hijauan sapi yang digemukkan di
lahan sawah irigasi dapat diberikan jerami padi.Untuk meningkatkan kualitas
jerami terlebih dahulu di buat silase melalui fermentasi.Namun apabila pakan
hijauan di daerah itu cukup banyak tersedia, maka penggunaan jerami untuk pakan
tidak perlu lagi.Untuk pemberian pakan hijauan kepada ternak ruminansia adalah
10% dari berat tubuh ternak. Pada praktikum ini hijauan rumput yang diberikan
berupa rumput gajah dan rumput rawa dan sudah sesuai dengan kebutuhan ternak,
dan rata-rata rumput selama praktikum berlangsung yang diberikan sebanyak 26,1
kg (Anonim, 2010)
Kosumsi pakan ternak domba
Pada
praktikum ini domba yang digunakan adalah jenis domba ekor tipis, yang memiliki
ciri tubuh yang kecil, ekor relatif kecil dan tipis, bulu bewarna putih, tidak
bertanduk (betina), bertanduk kecil dan melingkar (jantan). Pakan utama yang
umum diberikan berupa hijauan segar, seperti rumput, legume (daun lamtoro dan
turi, dan lain-lain) atau aneka hijauan (daun singkong (protein cukup tinggi),
daun nangka dan daun pepaya). Khusus legume dan aneka hijauan sebelum diberi
pada ternak sebaiknya dilayukan terlebih dahulu 2-3 jam dibawah terik matahari
untuk menghilangkan racun yang ada dalam hijauan tersebut.(Rozak, 2010).
Selain
pakan hijauan, dapat juga ditambah dengan pakan padat /konsentrat.Jenis yang
dapat digunakan adalah bekatul, ampas tahu, ketela pohon (dicacah dahulu).Jenis
pakan tersebut mudah dan murah dibeli dengan sumbangan yang cukup lumayan untuk
kebutuhan nutrisinya. Kebutuhan setiap ekor kira-kira 3 kg per hari dengan
komposisi 40% berkatul 40% ampas tahu dan 20% ketela pohon. Teknik pemberian
konsentrat disarankan jangan bersamaan dengan hijauan, karena pakan ini
mempunyai daya cerna dan kandungan nutrisi yang berbeda dengan hijauan.
(Ridwan, 2009).
Saat
praktikum pemberian pakan hijauan pada ternak domba didapat rata-rata yaitu
1,82 kg dalam 5 hari. Dalam pemberian kosentrat sebanyak 1% dari berat badan
ternak dan pemberian pakan hijauan sebanyak 10% dari berat badan ternak.Khusus
untuk pemberian legume, setelah legume dilayukan terlebih dahulu sebelum
diberikan kepada ternak legume harus dipisahkan dari ranting-rantingnya, hal
itu dilakukan agar didapat data bersih.Sedangkan untuk pemberian air, air
diberikan tanpa batas dan selalu dicek kelayakan air. Pada praktikum ini
pemberian kosentrat sama sekali tidak dimakan oleh ternak, hal itu mungkin
dikarenakan kebiasaan ternak. Ternak sebaiknya dikenalkan terlebih dahulu untuk
pakan kosentrat agar ternak tersebut mau makan kosentrat. Jika ternak tidak mau
makan kosentrat saat sudah dewasa sebaiknya ternak tersebut harus diberi secara
manual atau disuapi agar proses penggemukan berjalan dengan baik. Karena jika
ternak hanya makan hijauan saja maka proses penggemukan ternak akan lama. Pada
praktikum ini pemberian rumput sudah sesuai dengan kebutuhan nutrisi ternak
tetapi pemberian kosentrat tidak, karena ternak tidak mau memakan kosentrat
tersebut.
C.2. Produksi
1. Produksi sapi
Untuk pengukuran produksi sapi yang
harus diukur adalah tinggi badan, panjang badan, lingkar dada dan berat badan
ternak.Untuk pengukuran produksi sapi dilakukan setiap hari setiap pagi saat
praktikum kecuali pengukuran berat badan sapi yang hanya dilakukan pada awal
praktikum dan akhir praktikum saja. Pada awal penimbangan berat badan sapi,
sapi mempunyai berat badan 237,5 kg dan penimbangan berat badan terakhir adalah
249,5 yang artinya selama praktikum 5 hari berat badan sapi bertambah sebanyak
12 kg. Menurut Elfatah(2006) pertumbuhan produksi daging pada sapi bali 0,5 kg
sampai 1 kg per hari. Hasil yang kami terima mungkin disebabkan timbangan berat
badan sapi eror, sehingga didapat hasil yang tidak wajar, atau bisa disebabkan
karena sapi yang dipelihara sedang bunting tua. Untuk panjang badan dan tinggi
badan pada sapi tidak berubah selama praktikum sampai selesai yaitu untuk
panjang badan sapi 113 cm dan tinggi badan sapi 115 cm. Untuk lingkar badan
sapi bertambah dari yang 159 cm pada awal pengukuran menjadi 162 cm pada akhir
pengukuran jadi selama 5 hari pertambahan lingkar badan sapi yaitu 3 cm.
Performance produksi ternak dipengaruhi oleh iklim, tata laksana dan pakan,
kebiasaan ternak namun faktor pakan
sangat mempengaruhi. Average daily growth adalah penambahan berat badan harian
yang menentukan produksi ternak (Edi Sutrisno. 2013)
Cara
penentuan umur sapi dapat diperkirakan dengan penentuan jumlah gigi seri yang
tumbuh tetapi tidak selalu tepat. Tetapi dengan cara ini umur ternak dapat
diperikrakan. (Sudarwati, 2004).
1. Jika
gigi susu belum ada yang lepas maka dapat diperkiraan umur ternak tersebut
kurang 1 tahun.
2. Jika
sepasang gigi susu tengah sudah berganti dengan gigi tetap maka dapat
diperkiraan umur ternaka tersebut 1 – 1,5 tahun.
3. Jika
dua pasang gigi susu tengah berganti dengan gigi tetap maka dapat diperkiraan
umur ternak tersebut 1,5 – 2 tahun.
4. Jika
tiga pasang gigi susu berganti dengan gigi tetap maka dapat diperkiraan umur
ternak tersebut 2,3 – 3 tahun.
5. Jika
seluruh gigi susu berganti dengan gigi tetap maka dapat diperkiraan umur ternak
tersebut 4 tahun.
6. Jika
gigi tetap sudah usang maka dapat diperkirakan umur ternak tersebut sudah
lanjut.
Jika
dilihat sapi 4 seluruh gigi berganti berarti diperkirakan sapi berumur 3,5
tahun.
2. Produksi domba
Untuk pengukuran produksi domba yang
harus diukur adalah tinggi badan, panjang badan, lingkar dada dan berat badan
ternak. Untuk pengukuran produksi domba dilakukan setiap hari setiap pagi saat
praktikum Pada awal penimbangan berat badan domba, domba mempunyai berat badan
10,9 kg dan penimbangan berat badan terakhir adalah 11.7 yang artinya selama
praktikum 5 hari berat badan sapi bertambah sebanyak 0.8 kg.Hal ini dikarenakan
ternak tidak mau memakan kosentrat. Untuk tinggi badan pada awal praktikum
adalah 52 cm dan bertambah menjadi 53 cm pada akhir praktikum yang artinya
selama praktikum 5 hari tinggi domba bertambah 1 cm. Untuk panjang badan domba
pada awal praktikum sepanjang 50 cm dan bertambah menjadi 52 cm selama
praktikum 5 hari yang artinya bertambah 2 cm. Pada lingkar badan domba yang
awalnya 51 cm bertambah 1 cm selama praktikum 5 hari, pertumbuhan produksi pada
domba terhambat dikarenakan domba hanya makan hijauan saja tetapi tidak makan
kosentrat. Performance produksi ternak dipengaruhi oleh iklim, tata laksana dan
pakan, kebiasaan ternak namun faktor
pakan sangat mempengaruhi. Average daily growth adalah penambahan berat badan harian
yang menentukan produksi ternak (Edi Sutrisno. 2013).
Cara
penentuan umur domba dapat diperkirakan dengan penentuan jumlah gigi seri yang
tumbuh tetapi tidak selalu tepat. Tetapi dengan cara ini umur ternak dapat
diperikrakan. (Sudarwati, 2004).
1. Jika
gigi susu belum ada yang lepas maka dapat diperkiraan umur ternak tersebut <
1 tahun.
2. Jika
sepasang gigi susu tengah sudah berganti dengan gigi tetap maka dapat
diperkiraan umur ternaka tersebut 1 – 1,5 tahun.
3. Jika
dua pasang gigi susu tengah berganti dengan gigi tetap maka dapat diperkiraan
umur ternak tersebut 1,5 – 2 tahun.
4. Jika
tiga pasang gigi susu berganti dengan gigi tetap maka dapat diperkiraan umur
ternak tersebut 2,3 – 3 tahun.
5. Jika
seluruh gigi susu berganti dengan gigi tetap maka dapat diperkiraan umur ternak
tersebut 4 tahun.
6. Jika
gigi tetap sudah usang maka dapat diperkirakan umur ternak tersebut sudah
lanjut.
Jika
dilihat domba 3 dua pasang gigi susu tengah berganti dengan gigi tetap berarti
diperkirakan domba tersebut berumur 1,5 sampai 2 tahun.
C.3. Fisiologis
1. Fisiologis pada sapi
Menurut
(Sientje, 2004) Fisiologis ternak meliputi suhu tubuh, respirasi dan denyut
jantung.Suhu tubuh hewan homeotermi merupakan hasil keseimbangan dari panas
yang diterima dan dikeluarkan oleh tubuh.Dalam keadaan normal suhu tubuh ternak
sejenis dapat bervariasi karena adanya perbedaan umur, jenis kelamin, iklim,
panjang hari, suhu lingkungan, aktivitas, pakan, aktivitas pencernaan dan
jumlah air yang diminum.Suhu normal adalah panas tubuh dalam zone thermoneutral
pada aktivitas tubuh terendah. Variasi normal suhu tubuh akan berkurang bila
mekanisme thermoregulasi telah bekerja sempurna dan hewan telah dewasa. Salah
satu cara untuk memperoleh gambaran suhu tubuh adalah dengan melihat suhu
rectal dengan pertimbangan bahwa rectal merupakan tempat pengukuran terbaik dan
dapat mewakili suhu tubuh secara keseluruhan sehingga dapat disebut sebagai
suhu tubuh.
Respirasi
adalah proses pertukaran gas sebagai suatu rangkaian kegiatan fisik dan kimis
dalam tubuh organisme dalam lingkungan sekitarnya. Oksigen diambil dari udara
sebagai bahan yang dibutuhkan jaringan tubuh dalam proses metabolisme.
Frekuensi respirasi bervariasi tergantung antara lain dari besar badan, umur,
aktivitas tubuh, kelelahan dan penuh tidaknya rumen (Anonim, 2004). Kecepatan
respirasi meningkat sebanding dengan meningkatnya suhu lingkungan.Meningkatnya
frekuensi respirasi menunjukkan meningkatnya mekanisme tubuh untuk
mempertahankan keseimbangan fisiologik dalam tubuh hewan. Kelembaban udara yang
tinggi disertai suhu udara yang tinggi menyebabkan meningkatnya frekuensi
respirasi.Frekuensi denyut nadi dapat dideteksi melalui denyut jantung yang
dirambatakan pada dinding rongga dada atau pada pembuluh nadinya. Frekuensi
denyut nadi bervariasi tergantung dari jenis hewan, umur, kesehatan dan suhu
lingkungan. Disebutkan pula bahwa hewan muda mempunyai denyut nadi yang lebih
frekuen daripada hewan tua. Pada suhu lingkungan tinggi, denyut nadi meningkat.
Peningkatan ini berhubungan dengan peningkatan respirasi yang menyebabkan
meningkatnya aktivitas otot-otot respirasi, sehingga dibutuhkan darah lebih
banyak untuk mensuplai O2 dan nutrient melalui peningkatan aliran darah dengan
jalan peningkatan denyut nadi. Bila terjadi cekaman panas akibat temperatur
lingkungan yang tinggi maka frekuensi pulsus ternak akan meningkat, hal ini
berhubungan dengan peningkatan frekuensi respirasi yang menyebabkan
meningkatnya aktivitas otot-otot respirasi, sehingga memepercepat pemompaan
darah ke permukaan tubuh dan selanjutnya akan terjadi pelepasan panas tubuh.
Frekuensi Pulsus sapi dalam keadaan normal adalah 54-84 kali per menit atau
40-60 kali per menit dan sapi muda 80-90 kali per menit (Sherwood 2004).
Dalam
praktikum ini rata-rata temperature rectal sapi adalah 37oC sedangkan
untuk suhu normal rectal sapi adalah 37oc – 40oc, untuk
perhitungan rata-rata respirasi adalah 28 kali/menit, sedangkan rata-rata
denyut nadi sebanyak 46 kali/menit. Sapi
pada suhu dingin menyesuaikan diri dengan mengurangi frekuensi nafasnya agar
menjaga suhu tubuh,dan juga tidak terlalu cepat detak jantungnya. Sebaliknya
sapi pada suhu tinggi menyesuaikan suhu tubuhnya dengan mengeluarkan suhu tubuh
dengan banyak nafas atau mempercepat nafas, dan detak jantungnya. Umur sapi
juga mempengaruhi nafas, pulsus, dan suhu. Pada sapi yang lebih tua nafas lebih
cepat, detak jantung lebih cepat dan suhu tubuh lebih tinggi.
Kelembaban
udara akan berbanding terbalik dengan temperature udara, semakin tinggi
kelembaban udara maka semakin rendah temperature udaranya. Kelembaban udara
rata-rata sapi kelompok 4 adalah 61% .
2. Fisiologis pada domba
Menurut
(Sientje, 2004) Fisiologis ternak meliputi suhu tubuh, respirasi dan denyut
jantung.Suhu tubuh hewan homeotermi merupakan hasil keseimbangan dari panas
yang diterima dan dikeluarkan oleh tubuh.Dalam keadaan normal suhu tubuh ternak
sejenis dapat bervariasi karena adanya perbedaan umur, jenis kelamin, iklim,
panjang hari, suhu lingkungan, aktivitas, pakan, aktivitas pencernaan dan
jumlah air yang diminum.Suhu normal adalah panas tubuh dalam zone thermoneutral
pada aktivitas tubuh terendah. Variasi normal suhu tubuh akan berkurang bila
mekanisme thermoregulasi telah bekerja sempurna dan hewan telah dewasa. Salah
satu cara untuk memperoleh gambaran suhu tubuh adalah dengan melihat suhu
rectal dengan pertimbangan bahwa rectal merupakan tempat pengukuran terbaik dan
dapat mewakili suhu tubuh secara keseluruhan sehingga dapat disebut sebagai
suhu tubuh. Rata-rata suhu rectal pada domba saat praktikum adalah 37,9oc
dibandingkan dengan suhu normalnya adalah 37 oc -40oc.
Pada pengukuran resipirasi didapat nilai rata-ratanya yaitu 46 kali / menit dan
rata-rata denyut jantung 88 kali / menit dibandingkan dengan nilai respirasi
noramal yaitu 26-32 kali/menit. Sedangkan nilai normal denyut jantung domba
normal adalah 60-12 kali/menit, ketidak normalnya pengukuran fisiologis pada
domba dapat disebabkan karena ada perlawaan terhadap praktikan saat paraktikum
(Basuki. 2006). Kelembaban udara akan berbanding terbalik dengan temperature
udara, semakin tinggi kelembaban udara maka semakin rendah temperature
udaranya. Temperature udara rata-rata untuk domba kelompok 3 adalah 28oc
.
C.4. Umur Ternak dan Estimasi BCS
a.
Umur Ternak dan Estimasi BCS Sapi kelompok
4
b.
Umur Ternak dan Estimasi BCS domba kelompok
3
Menurut
Sastromijoyo (2004) untuk menentukan umur sapi yang paling tepat adalah dengan
melihat catatan kelahiran si ternak, tetapi hal tersebut sulit dilakukan dalam
praktek, apalagi terhadap ternak rakyat, hanya peternak perusahaan yang
biasanya mencatat kelahiran si ternak tersebut.
Cara
yang akan digunakan untuk menafsirkan umur si ternak tersebut adalah dengan Metode Gigi.Penafsiran umur dengan melihat perkembangan dan pergantian
gigi seri serta terasahnya gigi seri (permanen). Pada pedet terasahnya gigin
tidak seberapa karena makanannya hanya diberi air susu, sedangkan pada sapi
dewasa terasahnya lebih banyak karena pakannya dalam bentuk keras (Puspa, 2006).
Ternak ruminansia tidak mempunyai gigi taring.Gigi seripun hanya
terdapat pada rahang bawah.Sedangkan rahang atas hanyalah berupa bantalan
tenunan pengikat yang kuat.Gigi geraham terdapat pada kedua rahang. Jumlah gigi
seri ada 4 pasang (8 buah) geraham depan 12 buah dan geraham belakang ada 12
buah. Jadi jumlah gigi domba yang lengkap ada 32 buah. Gigi seri yang tumbuh
pada umur muda disebut gigi seri susu. Gigi susu ini kecil dan agak tajam serta
tumbuhnya agak renggang satu sama lain. Gigi seri susu ini sifatnya hanya
sementara. Karena pada suatu saat akan tanggal (rontok) dan digantikan dengan
gigi seri tetap. Pergantian gigi seri susu dan gigi seri tetap ini yang
digunakan untuk menaksir umur ternak. Sedangkan pada ternak tua ditaksir
berdasarkan keausan gigi seri ini, berhubungan dengan kondisi pakan.Ternak yang
dilepas/diangon, gigi serinya relatif lebih cepat tanggal atau aus dari pada
tenrak yang dikandangkan.Menentukan umur ternak domba kurang dari 1 tahun
jumlah gigi seri tetap belum ada. Namun memiliki gigi susu. Sepasang gigi tetap
(sebanyak 2 buah) umur ternak domba kurang lebih 1 sampai dengan 2 tahun.Dua
pasang gigi tetap (4 buah gigi tetap) menandakan umur tersebut 2-3 tahun.Juga
pasang gigi tetap (6 buah) berumur 3-4 tahun.Jika ternak memiliki empat pasan
ggigi tetap (8 buah) harus berumur 4-5 tahun.Tetapi jika gigi tetap aus dan
mulai lepas maka ternak tersebut berumur diatas 5 tahun.
Prinsip taksiran dari gigi adalah memperhitungkan pertumbuhan,
penggantian dan keausan gigi ternak. Pertumbuhan gigi ternak terbagi tiga
periode yaitu, periode gigi susu, periode penggantian gigi susu menjadi gigi
tetapserta periode kausan gigi tetap Adapun untuk menentukan umur sapi yang
perlu diperhatikan adalah kondisi gigi yang meliputi pertukaran gigi seri susu
dengan gigi seri tetap, perecupan gigi seri, pergesekan, dan bintang gigi. Jika
gigi seri susu I1 sudah berganti dengan gigi seri tetap dan sudah merecup,
berarti umur sapi 2 tahun. Jika gigi seri susu I2 sudah berganti dan merecup,
berarti umur sapi 3 tahun. Jika gigi seri susu I3 sudah berganti dan merecup,
umur sapi 3,5 tahun. Jika semua gigi seri telah berganti (I4) dan merecup, umur
sapi 4 tahun.Jika I4 ada tanda pergesekan, berarti umur sapi 5 tahun.(Timan
2005).
Pada foto sapi 4 dapat ditafsirkan
bahwa umur si sapi tersebut sekitar 3 sampai 4 tahun, karena pada sapi 4 seluruh
gigi susu berganti dengan gigi tetap maka dapat diperkiraan umur ternak tersebut
4 tahun. Sedangkan pad foto domba 3 dapat ditafsirkan bahwa umur si domba
tersebut antara 1.5 sampai 2 tahun karena dua pasang gigi susu tengah berganti
dengan gigi tetap berarti diperkirakan domba tersebut berumur 1,5 sampai 2 tahun.
Sistem penilaian yang umum telah dikembangkan untuk
memperkirakan rata-rata kondisi tubuh sapi dalam populasi.Sistem penilaian ini
menyediakan skor relatif berdasarkan evaluasi timbunan lemak dalam hubungannya
dengan fitur kerangka.Kondisi tubuh untuk sistem penilaian yang paling banyak
digunakan untuk sapi memberikan skor dari 1 (kurus dan hampir tidak ada lemak)
sampai 9 (berlebihan lemak). Penilaian 1-3 adalah kurus, nomor 4 tergolong perbatasan, 5-6 yaitu optimal, sedangkan 7-9
adalah gemuk (Putri, 2004).
1.
BCS
1 (Kurus parah) yaitu dimana ternak kelaparan dan lemah, tidak ada lemak
terditeksi di punggung, pinggul atau tulang rusuk. Tulang rusuk terlihat
mencolok, semua struktur rangka terlihat tajam dan biasanya ternak terserang
penyakit. Dalam sistem produksi normal ternak diBCS ini jarang terjadi.
2.
BCS
2 (Kurus) yaitu Mirip dengan BCS 1, tetapi tidak lemah, jaringan otot sedikit
terlihat, tailhead dan iga kurang menonjol.
3.
BCS
3 ( Sangant Kurus) yaitu dimana ternak tidak ada lemak di atas tulang rusuk
atau punggung, tulang punggung mudah terlihat, sedikit peningkatan dalam otot.
4.
BCS
4 (Perbatasan) yaitu tulang rusuk ternak terlihat kurang tertutup lemak secara
keseluruhan, otot meningkat melalui bahu dan kaki belakangnya, pinggul dan
tulang punggung terlihat sedikit membulat dibandingkan penampilan tajam BCS 2.
5.
BCS
5 ( Sedang) yaitu lemak yang menutupi tulang rusuk meningkat, tulang rusuk
umumnya hanya dibedakan 12 dan 13 secara individual, tailhead penuh tetapi
tidak bulat.
6.
BCS
6 (Baik) yaitu tulang rusuk belakang dan tailhead terlihat agak bulat dan
ketika diraba sedikit ada penumpukan lemak pada punggung.
7.
BCS
7 (Gemuk) yaitu munculnya daging dan lemak dan ke belakang tailhead, dan
punggung, serta tulang rusuk tidak lagi terlihat. Daerah vulva dan rectum eksternal
mengandung timbunan lemak sedang, pada ambing terlihat sedikit berlemak.
8.
BCS
8 (Sangat gemuk) yaitu kuadrat penampilan karena kelebihan lemak di punggung,
tailhead dan bagian belakangnya. Penumpukan lemak ekstrim di punggung dan
seluruh tulang rusuk, lemak yang berlebihan di sekitar vulva dan rectum,
mobilitas dalam ambing mungkin mulai dibatasi.
9.
BCS
9 (Obesitas) yaitu dimana ternak tersebut mirip dengan BCS 8, tetapi untuk
tingkat yang lebih besar mayoritas lemak disimpan pada ambing yang terbatas
efektifitas laktasi. Dalam sistem produksi normal ternak di BCS ini jarang
terjadi.
Pada praktikum ini ternak yang dipelihara selama 5 hari pada
ternak sapi dapat perkirakan bahwa ternak sapi 4 memiliki BCS 7 munculnya
daging dan lemak dan ke belakang tailhead, dan punggung, serta tulang rusuk
tidak lagi terlihat. Daerah vulva dan rectum eksternal mengandung timbunan
lemak sedang, pada ambing terlihat sedikit berlemak. Sedangkan pada domba susah
untuk diperkirakan karena domba tersebut tertutup dengan bulu wol.
C. KESIMPULAN DAN SARAN
C.1. KESIMPULAN
·
Dari praktikum yang telah dilakukan selama 10 hari
diperoleh kesimpulan yaitu kandungan nutrisi pada rumput gajah jauh lebih baik
dibandingkan dengan rumput rawa, kandungan protein pada kosentrat yaitu dedak
padi adalah 10%.
·
Pada
pengukuran fisiologis mempunyai data yang berbeda-beda hal itu dikarenakan faktor
lingkungan dan faktor dari peternaknya sendiri, ternak memberontak saat
praktikan akan melakukan praktikum, sehingga menyebabkan fisiologis ternak
berubah secara drastis.
·
Melihat
catatatan kelahiran ternak dari si peternak adalah hal yang paling tepat untuk
menentukan umur si ternak tersebut. selain itu dapat pula umur ternak
ditafsirkan dengan menggunakan metode rumus gigi. BCS pada sapi kelompok 4
yaitu 7 sedangkan pada domba tidak bisa ditentukan karena tertutup wol.
C.2. SARAN
Ada beberapa hal yang
harus diefaluasi agar praktikum kedepanya jauh lebih baik yaitu:
1.
Peralatan kebersihan setiap kelompok
harus disediakan agar tidak memakan waktu lama.
2.
Tempat penampungan air sebaiknya
tersedia di beberapa tempat karena agar saat praktikum tidak mengantri terlalu
lama.
D. DAFTAR PUSTAKA
Sherwood 2004 Sapi Bali. Penebar Swadaya, PT. Jakarta
Sugeng.2005 Penggemukan Sapi Potong. Penebar
Swadaya. Jakarta
Anonim 2007 Status-Faali http://ditanyamengapa.blogspot.com/2011/04/status-faali.html
(diakses pada tanggal 05 Oktober 2014)
Anonim, 2004 Fisiologi Frekuensi Nafas Pulsus dan http://sismami-ayu.blogspot.com/2011/07/fisiologi-frekuensi-nafas-pulsus-dan.html
(diakses pada tanggal 06 Oktober 2014)
Anonim, 2009 Manajemen Pakan Pada Ternak Sapi Potong http://chalikchadit.blogspot.com/2012/02/manajemen-pakan-pada-ternak-sapi-potong.html
(diakes pada tanggal 05 Oktober 2014)
Anonim, 2010 Membuat Pakan Ternak Sapi Potong Modern, http://www.usahaternak.com/2014/04/membuat-pakan-ternak-sapi-modern.html
(diakses pada tanggal 05 Oktober 2014)
Anonim, 2011 Pakan Ternak Sapi Bali http://peternakanunhas.blogspot.com/2011/04/pakan-ternak-sapi-bali.html
(diakses pada tanggal 04 Oktober 2014)
Anonim, 2013 Sapi Bali http://ripk78.blogspot.com/2013/06/sapi-bali.html
(diakses pada tanggal 04 Oktober 2014)
Basuki. 2006 Pengukuran Data Fisiologi http://c31121142.blogspot.com/2013/06/pengukuran-data-fisiologi.html
(diakses pada tanggal 06 Oktober 2014)
Edi Sutrisno. 2013 Penerapan Teknologi Reproduksi Dalam http://afendigenepo.blogspot.com/2012/03/penerapan-teknologi-reproduksi-dalam.html
(diakses pada tanggal 06 Oktober 2014)
Elfatah, 2006
Performans Produksi dan Reproduksi Sapi http://ekhoadx.blogspot.com/2013/10/performans-produksi-dan-reproduksi-sapi.html
(diakses pada tanggal 06 Oktober 2014)
Puspa, 2006 Rumus Gigi Sapi http://gemaputri.blogspot.com/2009/12/rumus-gigi-sapi.html
(diakses pada tanggal 07 Oktober 2014)
Putri, 2004 Body
Condition Score BCS http://patisewubahurekso.blogspot.com/2012/03/body-condition-score-bcs.html (diakses pada tanggal 07 Oktober
2014)
Ridwan, 2009 Pakan Ternak Sapi Bali, http://peternakanunhas.blogspot.com/2011/04/pakan-ternak-sapi-bali.html
(diakses pada tanggal 04 Oktober 2014)
Rozak, 2010 Beternak Sapi Bali 3 http://uripsantoso.wordpress.com/2010/01/17/beternak-sapi-bali-3/
(diakses pada tanggal 05 Oktober 2014)
Sastromijoyo, 2004 Cara Penafsiran Umur Pada Ternak http://peternakanjunaedi.blogspot.com/2011/06/cara-penafsiran-umur-pada-ternak.html
(diakses pada tanggal 06 Oktober 2014)
Sientje, 2004 Laporan Praktikum Fisiologi Ternak http://restiugm2012.blogspot.com/2013/06/laporan-praktikum-fisiologi-ternak.html
(diakses pada tanggal 06 Oktober 2014)
Siregar. 2007 Domba Biologi http://tjoetnakkkkk.blogspot.com/2011/01/domba-biologi.html
(diakes pada tanggal 04 Oktober 2014)
Sudarwati, 2004 Menafsir Umur Ternak http://gemaputri.blogspot.com/2009/12/menafsir-umur-ternak.html
(diakses pada tanggal 06 Oktober 2014)
Timan 2005 Tafsiran
Umur dan Berat Badan http://d3veeteriner.blogspot.com/2012/04/tafsiran-umur-dan-berat-badan.html (diakses pada tanggal 07 Oktober
2014)
